Setelah beberapa menit, mereka menemukan bangunan kecil lainnya yang kosong. Lynx segera memeriksa keadaan di dalamnya sebelum membawa wanita itu masuk.

"Kita bisa bertahan di sini untuk sementara, mereka sudah memeriksa tempat ini, jadi seharusnya tidak akan datang lagi." katanya sambil menutup pintu.

Wanita itu duduk di lantai, masih terlihat ketakutan. "Apa yang akan kau lakukan kalau mereka menemukan kita?"

"Aku akan menghadapinya," jawab Lynx tanpa ragu.

Wanita itu menatapnya dengan penuh keheranan. "Kau terlalu percaya diri. Apa kau benar-benar tahu apa yang kau lakukan?"

Lynx duduk di sampingnya, menatapnya dengan tenang. "Aku selalu menemukan jalan. Kau hanya perlu percaya padaku."

Wanita itu tertawa kecil, meskipun suaranya getir. "Aku ingin percaya. Tapi aku juga tahu betapa kejamnya mereka. Mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan."

"Itu sebabnya aku di sini," kata Lynx. "Untuk memastikan rencana mereka tidak akan berhasil."

Wanita itu terdiam, tatapannya berubah lembut. "Kau orang yang aneh. Tapi aku rasa... aku harus berterima kasih. Kalau bukan karena kau, aku mungkin sudah mati."

Lynx tersenyum samar. "Kita belum keluar dari sini. Simpan ucapan terima kasihmu untuk nanti."

Namun, di dalam hati, Lynx tahu bahwa ia harus segera membuat keputusan besar. Waktu terus berjalan, dan ancaman di luar semakin nyata.

"Namaku Alana," Kata wanita itu memperkenalkan diri.

"Aku Lynx." Jawab Lynx singkat.

Lynx tidak ingin banyak berbicara, kondisi mereka sedang tidak memungkinkan untuk mengobrol banyak. Dia harus fokus memperhatikan keadaan sekitar.

Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada mereka. Wajah Lynx berubah dan bersiaga. Alana melihat ekpresi Lynx menjadi panik dan khawatir. Ternyata beberapa penjaga mendekati bangunan tempat mereka bersembunyi, membawa obor dan senjata.

"Aku dengar suara dari sini!" teriak salah satu dari mereka.

Lynx langsung menarik Alana ke belakang, menyembunyikannya di sudut ruangan. "Jangan bersuara," katanya dengan nada pelan tapi tegas.

Namun, saat penjaga membuka pintu dan melihat mereka, keributan pun pecah.

"Di sini! Mereka di sini!" salah satu penjaga berteriak, dan segera saja lebih banyak rekan perampok datang dengan berbagai senjata.

Lynx maju ke depan, menghadang mereka dengan tangan kosong. "Kalian tidak akan menyentuh dia," katanya dengan suara dingin.

Beberapa penjaga mendekat dengan tombak dan kapak, namun Lynx dengan mudah menghindari serangan pertama. Ia memukul salah satu dari mereka tepat di dada, membuatnya terjungkal ke belakang dan menghantam dinding.

"Dia kuat!" teriak salah satu penjaga.

"Apa yang kalian tunggu?! Serang dia bersama-sama!" perintah yang lain.

Namun, Lynx tidak tinggal diam. Dengan kelincahan dan kekuatannya, ia terus bergerak, menjatuhkan lawan satu per satu.

"Ayo, Alana! Kita harus keluar dari sini!" teriak Lynx sambil menarik wanita itu ke arah pintu.

Mereka berlari ke arah gerbang utama, melewati ratusan penjaga yang mencoba menghadang. Lynx bergerak cepat, melindungi Alana di belakangnya.

Namun, jumlah perampok terlalu banyak. Beberapa dari mereka berhasil mendekat, menyerang Lynx dengan tombak dan panah. Lynx menangkis serangan itu dengan parangnya sambil tetap melindungi Alana, meskipun setiap langkah terasa semakin sulit.

Lynx segera merangkul Alana dan memposisikannya di punggungnya. Lynx mengerahkan kekuatannya dan melompat ke atap bangunan.

Namun para perampok dan penjaga yang sudah waspada menembakkan panah ke arah mereka. Puluhan anak panah dari berbagai penjuru datang dengan kecepatan tinggi sehingga Lynx harus mengerahkan kekuatan dan kelincahannya untuk menghindar.

Saat mereka hampir mencapai gerbang, sebuah panah melesat dari kejauhan. Lynx melihatnya datang, namun terlalu banyak yang harus ia tangkis sekaligus.

Panah itu menancap di punggung Alana.

Wanita itu mengeluarkan jeritan pendek, tangannya lunglai lemas. Badannya terasa lemas. Lynx langsung mencari tempat aman di balik sebuah bangunan dan menurunkannya, matanya membelalak. "Alana! Bertahanlah!"

Alana mencoba tersenyum meskipun darah mengalir dari mulutnya. "Kau... kau sudah berusaha..." katanya dengan suara yang semakin lemah.

Lynx menggenggam tangannya erat. "Aku akan menyelamatkanmu. Kau akan baik-baik saja. Kita hampir sampai."

Namun, nyawa Alana tak bisa diselamatkan. Matanya perlahan tertutup, meninggalkan Lynx yang terpaku dalam keheningan.

Tangisan dan teriakan dari perampok semakin mendekat. Lynx mengepalkan tangannya, lalu dengan hati berat, ia berdiri.

"Maaf, Alana..." bisiknya sebelum melangkah pergi.

Dengan kekuatannya yang luar biasa, Lynx melompat lagi lebih tinggi. Karena tanpa beban, dia bisa mengeluarkan kecepatan luar biasanya dengan lebih maksimal, Lynx mulai melarikan diri, menghindari serangan yang datang dari berbagai arah. Tombak dan panah terbang ke arahnya, namun ia berhasil menghindari semuanya dengan gerakan lincah.

Para perampok mengejarnya, tapi Lynx terlalu cepat. Ia melompati pagar kayu tinggi dengan satu lompatan besar, mendarat dengan mulus di sisi lain.

Dari kejauhan, ia mendengar suara teriakan penuh kemarahan dari perkampungan tersebut.

"Kita akan menangkapmu, siapa pun kau!"

Namun, Lynx tidak berhenti. Ia terus berlari, menghilang ke dalam kegelapan hutan, membawa beban duka di hatinya atas kehilangan Alana.

Beberapa waktu kemudian, sinar matahari pagi menyinari perkampungan. Di dalam sebuah bangunan besar, suasana dipenuhi dengan kegelisahan. Beberapa perampok yang terluka parah terbaring di sudut, sementara yang lain berkumpul di sekitar pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan tatapan tajam dan otot-otot yang tegang. Ia duduk di kursi besar yang terbuat dari kayu kasar, tangannya mengetuk gagang kapaknya dengan penuh perhitungan.

"Kalian panik untuk apa?" tanya pemimpin itu dengan suara berat, memecah keheningan.

Salah satu perampok yang lebih muda menjawab dengan suara gemetar, "Bos, orang itu... dia kuat sekali. Bagaimana mungkin dia mengalahkan kita semua? Dan dia memiliki senjata yang sangat luar biasa..."

"Diam!" bentak pemimpin itu, suaranya menggema di dalam ruangan. Ia berdiri dengan gerakan tegas, membuat semua orang di sekitarnya mengecilkan diri seperti tikus ketakutan. "Aku tahu siapa dia."

"Siapa, Bos?" salah satu penjaga bertanya dengan hati-hati.

Pemimpin itu menyeringai, mengangkat senjata tajamnya untuk menekankan poinnya. "Senjata yang dia bawa, kekuatan dan kecepatannya, cara dia melawan... Dia Lynx. Orang yang dicari oleh Monrest."

Kerumunan di dalam ruangan langsung menjadi riuh dengan bisikan panik.

"Lynx? Bukankah itu orang yang mengalahkan Revan dan Valgor?!"

"Bagaimana kita bisa menghadapi dia? Dia hampir seperti dewa!"

"Diam!" bentak pemimpin itu lagi, kali ini lebih keras. "Dia mungkin kuat, tapi dia tidak tak terkalahkan. Kita hanya perlu berpikir lebih pintar."

Ia berjalan perlahan ke arah salah satu penjaga yang masih gemetar. "Mulai sekarang, tahanan kita akan dipisahkan. Jika dia berani kembali, kita akan gunakan mereka sebagai sandera. Dan kalian—" Ia menunjuk pada beberapa pria dengan wajah kejam. "—jangan ragu untuk membunuh satu atau dua sandera jika dia menyerang. Bakar sisanya jika perlu. Aku ingin dia tahu bahwa dia tidak akan menang dengan cara biasa."

Semua orang mengangguk meskipun terlihat masih ketakutan. Pemimpin itu kembali ke kursinya dan tertawa kecil dengan bangga. "Dia pikir dia bisa menghancurkan kita? Kita akan membuatnya menyesal. Kita akan menangkapnya dan menyerahkannya kepada Monrest."

Sementara itu, Lynx berlari cepat di dalam hutan, napasnya stabil meskipun tubuhnya masih lelah setelah melarikan diri dari perkampungan. Matanya tajam, mencari arah yang aman dan berusaha menyusun rencana.

Namun, tiba-tiba ia mendengar suara langkah-langkah kaki di belakangnya. Lynx segera berhenti, berbalik, dan bersiap untuk menyerang.

"Tenang! Kami bukan musuh!" seru salah satu dari mereka, seorang pemuda dengan rambut hitam kusut dan tubuh atletis. Di belakangnya ada dua pemuda lainnya, membawa tombak kayu dan panah sederhana.

Lynx memicingkan mata, tetap waspada. "Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?"

Pemuda itu maju perlahan, mengangkat tangannya untuk menunjukkan bahwa ia tidak bersenjata. "Namaku Darek. Kami dari desa kecil di selatan. Kami melihat apa yang kau lakukan di kampung perampok subuh tadi."

Lynx tetap diam, menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Dia adikku, Alana," Kata Darek melanjutkan dengan nada penuh emosi.

BAB 113 : Rencana Pimpinan Perampok
Darek melanjutkan dengan nada penuh emosi. "Wanita yang kau coba selamatkan... dia adikku. Namanya Alana." Suaranya bergetar saat ia menyebut nama itu, dan ia menunduk dengan ekspresi penuh kesedihan.

Lynx menghela napas panjang. "Maaf. Aku mencoba yang terbaik, tapi mereka terlalu banyak."

"Aku tahu," jawab Darek, menatap Lynx dengan mata penuh penghargaan. "Aku tidak menyalahkanmu. Tapi aku berhutang padamu karena setidaknya mencoba. Kami sudah melihat perjuanganmu melawan mereka. Tapi ini belum selesai. Kami datang bukan hanya untuk menyelamatkan Alana, tapi juga yang lainnya.."

Pemuda lain yang berdiri di belakang Darek melangkah maju. "Kami tidak bisa membiarkan lebih banyak orang menderita. Kami tahu ada banyak tawanan yang masih hidup di sana, dan kami bersedia mempertaruhkan nyawa kami untuk membebaskan mereka."

Lynx mengamati mereka satu per satu. Mereka jelas bukan prajurit terlatih—peralatan mereka sederhana, gerakan mereka canggung, dan wajah mereka penuh dengan semangat muda yang naif. Tapi ada sesuatu dalam sorot mata mereka yang membuat Lynx merasa mereka bisa dipercaya.

"Apa kalian tahu berapa banyak orang yang ada di perkampungan itu?" tanya Lynx.

Darek mengangguk. "Kami memperkirakan ada dua ratus orang. Tawanan-tawanan itu dikurung di beberapa tempat, tapi..." ia berhenti, matanya menyipit penuh kebencian. "Jika kita menyerang tanpa rencana, mereka akan membantai para tawanan lebih dulu."

"Benar," Lynx setuju,  "Kita butuh strategi. Dan kita butuh lebih banyak informasi."

Pemuda ketiga, yang selama ini diam, akhirnya berbicara. "Kami tahu ada beberapa jalan tersembunyi di sekitar perkampungan itu. Jalan lama yang mereka tinggalkan, tapi kami menemukannya. Jika kau bersedia, kami bisa menunjukkannya padamu."

Lynx memandang pemuda itu dalam-dalam, mengukur keberanian dan kejujurannya. "Menarik. Tapi jalur tersembunyi saja tidak cukup. Kita butuh informasi yang lebih detail—berapa banyak penjaga, di mana saja tawanan mereka dipisahkan."

Darek menatap Lynx tajam, seakan tahu ke mana arah pembicaraan itu. "Apa maksudmu? Kau ingin kita mengintai lebih dekat?"

Lynx mengangguk. "Kita tidak bisa bergerak hanya dengan tebakan. Jika mereka tahu aku masih hidup dan akan kembali, mereka pasti sedang menyiapkan jebakan. Setiap detik yang berlalu, tawanan di sana dalam bahaya." Lynx lalu memandangi mereka satu persatu, "Tapi sebelum itu, kalian harus tahu bahwa ini tidak akan mudah. Jika ingin membebaskan mereka, kalian harus siap menghadapi bahaya yang tidak kalian duga."

"Kami siap," jawab Darek tegas.

Lynx menatap mereka dengan serius. "Kalau begitu, kita mulai sekarang. Tapi kita harus berhati-hati, mereka pasti berusaha mengejarku sekarang setelah kekacauan yang aku buat."

"Kita pindah ke tempat lain yang lebih aman sekarang!"" Kata Darek sambil berjalan menjauh dari perkampungan.

"Bagaimana kamu bisa sekuat dan secepat itu Lynx? Kami melihat kamu mampu menerobos kepungan mereka, bahkan mampu melarikan diri?" Tanya salah satu pemuda.

"Karena latihan." Jawab Lynx singkat tanpa ingin membahas lebih banyak mengenai kemampuannya.

Mereka bergerak lebih dalam ke hutan, menuju tempat di mana mereka bisa mengamati perkampungan dengan lebih baik dan menyusun rencana penyelamatan. Lynx tahu pertarungan ini akan menjadi salah satu yang paling sulit yang pernah ia hadapi, tapi ia tidak akan mundur. Para tawanan harus diselamatkan—tidak peduli berapapun harga yang harus dibayar.

Lynx dan kelompok kecilnya bersembunyi di balik semak lebat di sebuah bukit kecil yang menghadap ke perkampungan perampok. Dari sana, mereka bisa melihat seluruh aktivitas di dalam perkampungan.

"Kau bilang mereka pasti akan mengejarmu," gumam Darek, suara rendah tapi sarat dengan kebingungan.

Lynx mengangguk pelan, matanya tetap terpaku pada kamp. "Itu yang kupikirkan. Tapi ini berbeda..."

Kelompok itu memperhatikan dengan saksama. Di tengah perkampungan, beberapa tawanan yang sebelumnya mereka lihat diikat di tiang, kini sedang dipindahkan ke kandang kayu besar. Tawanan itu termasuk pria dewasa, wanita, bahkan anak-anak. Mereka dipaksa berjalan dengan tali melilit leher mereka, wajah mereka terlihat lelah dan pasrah.

"Lihat itu!" bisik salah satu pemuda. "Mereka menggabungkan orang-orang itu menjadi satu. Apa yang mereka lakukan?"

Lynx mengepalkan tangannya. "Apapun yang mereka lakukan, kita harus cepat menolong mereka semua."

Darek melirik Lynx. "Apa lagi yang mereka lakukan sekarang?"

Lynx memperhatikan ke arah perkampungan, mereka melihat semakin banyak pria bersenjata yang berdiri di dekat penjara. "Lihat penjagaannya. Semakin banyak penjaga di luar kandang kayu itu, semuanya bersenjata lengkap."

Dari tempat persembunyiannya, Lynx bisa melihat lebih banyak penjaga berjaga. Sebagian besar bersenjata tombak dan panah, serta kapak batu yang terlihat berat. Namun, yang paling mencurigakan adalah gerombolan pria besar yang berdiri di tengah perkampungan, mendengarkan perintah dari seseorang.

"Itukah pemimpin mereka?" gumam Lynx. "Kurasa memang dia dalang semua ini."

Darek memicingkan mata, berusaha mengikuti arah pandangan Lynx. "Kenapa mereka tidak mengejarmu? Bukankah seharusnya mereka berusaha menangkapmu? Tapi satupun tidak ada yang terlihat datang mengejar."

Pemuda lain, Rafin, menyela. "Mungkin mereka punya rencana. Kita harus berhati-hati."

Lynx mengangguk, meskipun wajahnya menunjukkan penyesalan. "Aku tidak cukup hati-hati tadi malam. Sekarang mereka pasti memperketat penjagaan dan menyulitkan kita untuk menolong tahanan."

Di tengah pengamatan mereka, Lynx dan kelompoknya melihat lebih banyak pergerakan di perkampungan. Tawanan-tawanan yang sebelumnya dikurung dalam penjara besar mulai dipisahkan ke beberapa lokasi berbeda. Beberapa diantaranya diikat di tiang-tiang kecil, sementara yang lain dibawa masuk ke dalam bangunan besar yang tampak seperti gudang.

"Mereka memisahkan para tawanan," ujar Lynx dengan nada prihatin. "Ini semakin rumit."

Darek mengangguk, wajahnya penuh ketegangan. "Jika mereka memindahkan semua tawanan, itu berarti kita tidak bisa menyerang satu titik. Kita harus membagi kekuatan."

Lynx menggeleng. "Kita tidak punya cukup orang untuk membagi kekuatan. Kalau kita menyerang tanpa rencana, mereka akan membunuh tawanan-tawanan itu lebih dulu."

Lynx menunjuk ke arah penjaga yang mengelilingi penjara baru. Mereka tampak lebih disiplin, berpatroli dengan pola tertentu. "Lihat itu. Sepertinya mereka tahu aku akan datang lagi. Ini bukan penjagaan biasa. Mereka sedang menungguku."

Rafin menelan ludah, suaranya bergetar. "Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?"

Saat mereka terus mengamati, terdengar suara jeritan yang mengerikan dari arah bangunan besar di tengah perkampungan. Lynx menoleh tajam, matanya menyipit. "Ada seseorang yang sedang disiksa di sana."

Darek menggigit bibirnya, wajahnya penuh dengan kemarahan. "Mereka akan membunuh lebih banyak orang jika kita tidak segera bertindak."

Namun Lynx mengangkat tangannya, meminta mereka untuk tetap tenang. "Bukan itu cara mereka. Mereka membutuhkan tawanan untuk diserahkan ke Monrest jadi tidak akan membunuh terlalu banyak tawanan sekaligus. Aku rasa tahu rencana yang sedang mereka buat. Mereka membutuhkan tawanan sebagai alat negosiasi."

"Alat negosiasi?" tanya Rafin, bingung.

Lynx mengangguk pelan, tatapannya tetap waspada. "Jika mereka tahu aku di sini, mereka akan menggunakan tawanan itu untuk memaksaku menyerah. Mereka akan mengancam nyawa mereka."

Darek memukul tanah dengan marah. "Mereka kejam! Bagaimana mungkin mereka bisa memperlakukan manusia seperti ini?"

Lynx tetap tenang, meskipun di dalam hatinya ia dipenuhi rasa bersalah. "Aku harus menemukan cara untuk menyelamatkan mereka semua tanpa memicu pembantaian."

Rafin menatap Lynx dengan penuh harap. "Kau punya rencana?"

Lynx menatap kamp perampok yang penuh dengan gerakan dan suara. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab, "Aku akan kembali malam ini. Tapi sebelum itu, aku butuh lebih banyak informasi. Kita harus tahu berapa banyak orang yang mereka pindahkan, di mana mereka ditempatkan, dan bagaimana mereka berniat menggunakan tawanan itu untuk melawan kita."

Darek dan Rafin saling bertukar pandang. "Kami akan membantumu. Katakan apa yang harus kami lakukan."

Lynx tersenyum kecil, meskipun ada ketegangan di wajahnya. "Kalian disini dan pantau pergerakan mereka. Aku butuh kalian untuk mengawasi mereka dari sini. Pastikan kalian tetap aman."

Mereka semua terdiam, menyadari betapa besar risiko yang sedang dihadapi Lynx. Tapi Lynx tetap teguh, matanya penuh tekad saat menatap perkampungan di kejauhan.

